Beranda Dunia Kuru, Penyakit ‘Hantu’ yang Pernah jadi Epidemi di Papua Nugini

Kuru, Penyakit ‘Hantu’ yang Pernah jadi Epidemi di Papua Nugini

11
0
Suku Fore di Papua Nugini
Suku Fore di Papua Nugini

Awal mulanya penderita akan mengalami gejala menggigil, tidak mau makan, kemudian akan lumpuh dan akhirnya meninggal dunia. Penyakit misterius itu disebut kuru, yang pernah menjadi epidemi beberapa dekade lalu di wilayah Papua Nugini. Masyarakat sekitar tidak tahu bagaimana menghentikan atau menyembuhkan penyakit tidak wajar tersebut.

Saat itu tahun 1955. Ada seorang anak yang merupakan anggota suku primitif biasa dikenal dengan suku Fore yang tinggal di pulau terpencil di Papua Nugini. Suku Fore suka bermukim di dataran tinggi pegunungan. Para pria biasa berburu, sementara para wanitanya menanam talas dan ubi sebagai bahan makanan sehari-hari. Suku Fore sangat percaya pada takhayul, sihir dan hantu. Termasuk kuru yang menjadi ketakutan terbesar bagi orang-orang Fore.

Suku Fore percaya bahwa kuru adalah penyakit dari hasil kutukan. Pun demikian, dokter lokal yang tidak percaya pada sihir menganggap kuru pasti adalah penyakit langka. Bahkan mungkin penyakit baru yang belum pernah dilihat orang sebelumnya. Tapi yang masih menjadi misteri adalah apa yang menyebabkannya? Sebuah virus? Genetika? Ataukah infeksi yang ditularkan melalui bakteri?

Dokter di sana kemudian mengirim sampel darah dan jaringan ke laboratorium di Australia. Namun hasilnya normal-normal saja seperti pada umumnya. Selalu begitu setelah dilakukan percobaan berulang-ulang. Setelah dua tahun bekerja keras, mereka masih belum tahu apa itu kuru. Orang-orang terus berdatangan ke rumah sakit setempat. Keluarga mereka hanya bisa menonton tanpa daya ketika orang-orang yang mereka cintai meninggal.

Kemudian, pada tahun 1957, seorang ilmuwan muda Amerika tiba di Papua Nugini. Dia datang untuk mengunjungi seorang teman tetapi juga untuk belajar lebih banyak tentang kuru. Dia membaca tentang penyakit ini tetapi tidak percaya dengan apa yang dia baca. Ketika dia melihat para korban, dia tertegun keheranan. Segera ia langsung bergabung dalam upaya membantu memecahkan misteri tersebut.

Setelah berbulan-bulan mempelajari penyakit ini, dokter dan ilmuwan itu masih belum bisa memahami penyebabnya. Orang Amerika itu merasa ada sesuatu yang mungkin dia lewatkan. Jadi dia mulai lagi dan terus berusaha. Dia membuat daftar cermat segala sesuatu yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit itu.

Di salah satu daftarnya ia menulis ada kata kanibalisme. Mengetahui bahwa suku Fore pernah mempraktikkan kanibalisme, dia yakin saat ini mereka tidak lagi melakukannya. Tetapi benarkah hal itu? Dan apakah itu ada hubungannya dengan penyakit ini?

Pada tahun 1959, dokter dan ilmuwan membaca sebuah artikel. Terdapat kesamaan antara kuru dan penyakit yang disebut “scrapie”. Scrapie biasanya terjadi pada domba. Jika jaringan otak dari domba yang sakit disuntikkan ke hewan yang sehat, domba yang sehat juga akan mengalami scrapie.

Para dokter di Papua Nugini memutuskan untuk mencoba eksperimen. Mereka menyuntikkan jaringan otak dari orang yang telah meninggal karena kuru ke simpanse. Butuh beberapa tahun, tetapi akhirnya semua simpanse juga terkena kuru.

Para dokter sangat terkejut. Kuru memang virus, virus yang bergerak sangat lambat.

Sekarang mereka menyadari bahwa para korban Fore pertama telah terinfeksi bertahun-tahun sebelumnya. Tapi bagaimana mereka bisa terinfeksi pertama kali?

Dua orang antropolog muncul dengan memberikan jawabannya. Pada tahun 1915, orang Fore mengunjungi suku lain, Kamano, yang berada di utara pemukimannya. Saat itulah orang-orang Kamano memperkenalkan suku Fore tentang kanibalisme.

Sejak itu, Fore membuat kanibalisme sebagai ritual pemakaman. Ketika salah satu dari mereka meninggal, suku lain yang hidup akan memasak dan memakan dagingnya. Jika sebelumnya orang yang meninggal telah mengidap kuru, maka mereka juga telah mengonsumsinya.

Hari ini, suku Fore sudah tidak lagi mempraktikkan kanibalisme seperti dahulu, dan kuru tidak lagi menjadi penyakit hantu di sana.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here