Beranda Sejarah Biografi Ki Hadjar Dewantara, Sang Bapak Pendidikan Indonesia

Biografi Ki Hadjar Dewantara, Sang Bapak Pendidikan Indonesia

17
Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara / Foto: Wikipedia

Biografi Singkat

  • Nama Lahir: Raden Mas Suwardi Suryaningrat
  • Lahir: Yogyakarta 2 Mei 1889
  • Meninggal: Yogyakarta, 26 April 1959
  • Gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia
  • Dasar penetapan: Keppres No. 305 Tahun 1959
  • Tanggal penetapan: 28 November 1959

Di awal abad 14 Masehi, di negeri koloni Hindia Belanda, pemerintah sibuk menyiapkan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda yang jatuh pada15 November 1913. Panitia telah dibentuk jauh-jauh hari untuk mempersiapkan kemeriahan dan orang-orang pribumi dilibatkan dalam persiapan ini. Lalu tiba-tiba pada 13 Juli 1913, seorang anak muda yang baru berumur 24 tahun menulis sindiran dalam surat kabar Bandung De Express berjudul “Als ik een Nederlander was” yang mengkritik soal perayaan tersebut. Pemerintah tersinggung dan Raad van Indie [dewan Hindia] segera bersidang pada akhir bulan serta mengeluarkan ancaman bahwa sang penulis bisa dikenai delichtpers dengan hukuman hingga 1 tahun penjara atau denda hingga 500 Gulden. Sang pemuda tetap tak bergeming dan ia makin berani menantang pemerintah kolonial Belanda lewat tulisannya.

Pemuda itulah Raden Mas Suwardi Suryaningrat, keturunan Pakualam III. Suwardi memang tergolong pemberani. Mungkin ini hasil didikan ayahnya. Saat ia terjerat kasus di Bandung, pemerintah membujuk ayah Suwardi agar menasihati anaknya untuk tidak terlalu kritis terhadap pemerintah. Ayahnya, KPH Suryaningrat, memang segera menemui anaknya di Bandung, tapi bukan untuk menasihati melainkan berujar, “…seorang satria tidak akan menjilat ludahnya kembali”. Jadilah Suwardi makin berani, ia segera menulis artikel garang bertajuk “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” pada 28 Juli 1913 dan membuat pemerintah saat itu benar-benar marah. Tulisan itu dianggap agitatif. Tanpa waktu lama, pemerintah segera menangkap Suwardi lalu menjatuhi hukuman buang ke pulau Bangka. Suwardi menolaknya dan meminta dibuang ke Belanda.

Suwardi memang punya bakat kritis dan makin terasah saat terlibat dalam perkumpulan insulinde. Ia juga makin mempunyai pengaruh saat mendirikan Indische Partij [IP] bersama dua kawan karibnya di Bandung. Jadilah nama Suwardi melambung sebagai bagian dari “Janget Tinatelon” [tiga serangkai] yang terkenal sangat kritis.


Ingin Jadi Dokter

Awalnya Suwardi hanyalah pemuda yang studi di STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Ia ingin menjadi dokter bumi putra, tetapi ia tidak menamatkan studinya karena bea siswanya dicabut. Suwardi lalu bekerja di laboratorium pabrik gula Kalibor, Banyumas, Jawa Tengah hingga pada 1911 Suwardi kembali ke Yogyakarta menjadi pembantu apoteker.

Nyatanya dunia obat memang bukanlah minat utamanya, Suwardi justru malah tertarik menjadi wartawan di pelbagai surat kabar seperti, Midden Java, Sedyotomo, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Poesara dan Tjahaja Timoer. Pada zamannya, Ki Hadjar Dewantara terbilang penulis sangat handal. Hasil karyanya dinilai sangat komunikatif, tajam dan penuh semangat perjuangan sehingga mampu membangkitkan asa antikolonial bagi pembacanya. Dalam organisasi, sebelum terlibat Insulinde, Suwardi sudah aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo guna menyosialisasikan dan membangkitkan kesadaran masyarakat pribumi akan pentingnya suatu kesatuan dan persatuandalam berbangsa serta bernegara.

Indische Partij atau tepatnya National Indische Partij yang didirikan pada 25 Desember 1912 menjadi partai pelopor dalam menuntut kemerdekaan Hindia [Indonesia]. Partai ini segera tidak berdaya saat gubernur jenderal Idenburg menolaknya pada 11 Maret 1913. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada 6 September 1913, Suwardi yang ditemani istrinya beserta dua rekan karibnya dalam “tiga serangkai” berangkat menuju tanah pembuangan.


Diasingkan di Belanda

Di Belanda, Soewardi aktif dalam Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Ia ikut menyemarakkan majalah Hindia Poetra dan juga Het Indonesisch Verbond van Student. Bersama istrinya, ia juga mendirikan Indonesisch Persbereau yang bertujuan sebagai pusat propaganda perjuangan pergerakan nasional Hindia [Indonesia]. Di samping itu, Suwardi juga menempuh pendidikan keguruan hingga memperoleh Europeesche Akte.

Pada Agustus 1917, pengasingan Suwardi sesungguhnya telah selesai, tapi karena Perang Dunia pertama masih berkecamuk hebat, ia belum bisa kembali ke Hindia Belanda. Baru Juli 1919, Suwardi bisa meninggalkan negeri Belanda. Segera setelah tiba di tanah air, Suwardi terlibat lagi dalam pergerakan. Kali ini ia berada di Semarang dan aktif menulis dalam Persatoean Hindia yang segera menggiringnya ke penjara hingga tahun 1921.


Mendirikan Sekolah Taman Siswa

Setelah itu, ia kembali ke Yogyakarta dan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Ia mendobrak sistem pendidikan barat dan pesantren dengan mengajukan sistem pendidikan nasional. Namanya juga lantas diganti menjadi Ki Hajar Dewantara dan tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan agar dekat dengan rakyat. Ia juga mencetuskan semboyan sistem pendidikan dalam bahasa Jawa, “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Slogan yang nantinya begitu terkenal. Taman Siswa maju pesat meski riak menghadangnya. Pada tahun 1932, muncul ordonansi sekolah liar yang membatasi gerak sekolah-sekolah pribumi sampai pada pendudukan Jepang, tepatnya pada 13 Maret 1944, Taman Siswa dibubarkan dan hanya diizinkan mengadakan sekolah kejuruan.


Dianugerahi Gelar Bapak Pendidikan Indonesia

Ki Hajar Dewantara tidak serta-merta berhenti, ia ikut terlibat dalam Putera [pusat Tenaga Rakyat] bentukan Jepang dan masih aktif dalam pendidikan hingga selepas kemerdekaan Indonesia 1945, ia diangkat menjadi menteri pendidikan Indonesia [menteri pengajaran Indonesia] pertama dan masih mengurusi lembaganya, Taman Siswa. Peran sentralnya dalam pendidikan Indonesia diakui hingga mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelahnya, dalam usia 69 tahun, ia dipanggil sang Khalik dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, makam milik keluarga Taman Siswa. Karena jasanya yang begitu besar, Ki Hajar Dewantara digelari sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tujuh bulan selepas kepergiannya, presiden Soekarno segera memberi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia kepada Ki Hajar Dewantara.

Loading...