Home » Lainnya» Deretan Manusia Langka yang Memiliki Kemampuan Hitung Secepat Kalkulator

Deretan Manusia Langka yang Memiliki Kemampuan Hitung Secepat Kalkulator

.
Ditanya berapa detik hidup yang sudah dijalani jika saat ini seseorang berusia 70 tahun, 17 hari, dan 12 jam, seorang pria memberikan jawabannya hanya dalam waktu satu setengah menit. Ketika para penguji menentang jawabannya, dia justru malah mengoreksi lagi dengan menunjukkan bahwa para penguji tersebut telah menghilangkan adanya hitungan tahun-tahun kabisat.
Manusia kalkulator
Thomas Fuller (credit)
Pria yang mendemonstrasikan kemampuan aritmetika yang mengejutkan ini adalah Thomas Fuller, Sang manusia Calculator Virginia. Lahir di Afrika Barat pada tahun 1710 dan kemudian dikirim ke Amerika sebagai budak. Ironisnya, dia justru tetap buta huruf sepanjang hidupnya.

Ada manusia kalkulator lainnya, beberapa tidak hanya kekurangan pendidikan formal tapi juga orang-orang bodoh, dengan sedikit kemampuan intelektual di bidang lain. Jedediah Buxton, keajaiban lain dari abad ke-18, bisa mengingat dalam jangka waktu setidaknya satu bulan perhitungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah aritmetika yang kompleks. Namun dia tetap buta huruf, meski memiliki ayah yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah, dan sepertinya hanya memiliki sedikit kecenderungan intelektual selain ketertarikannya pada bilangan dan angka. Pada satu kesempatan ia menghadiri sebuah drama Shakespeare, satu-satunya hal yang menarik baginya adalah jumlah kata yang setiap aktor bicarakan dan jumlah pintu masuk dan pintu keluar masing-masing dibuat.

Vito Mangiamele, anak dari seorang penggembala Sisilia, merupakan keajaiban aritmetika abad ke-19 dengan pendidikan yang terbatas. Dalam waktu kurang dari satu menit dia bisa memberi tahu seorang kuesioner bahwa akar kubus dari 3.796.416 adalah 156. (Jumlah yang lebih besar sama dengan 156 X 156 x 156.). Ini dia lakukan sejak kecil saat berusia 10 tahun, di bawah pemeriksaan di Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis . Yang lebih menakjubkan lagi, dia bisa menghitung akar 10 dari 282,475,249 hanya di kepalanya. (Jawabannya adalah 7).

Sang manusia kalkulator berikutnya adalah Carl Friedrich Gauss, yang lahir pada tahun 1777, adalah salah satu genius matematis paling luar biasa di dunia. Kemampuan briliannya pada bilangan dan angka-angka terlihat sejak usia dini. Pada hari pertamanya di kelas aritmetika di sekolah, dia memberikan jawaban atas serangkaikan masalah sebelum guru selesai mendikte jawabannya. Dia menerbitkan teorinya tentang angka-angka pada tahun 1801 dan kemudian menjadi ahli matematika terkemuka seusianya.

Lahir pada tahun 1887, Srinivasa Ramanujan adalah seorang matematikawan India dengan kemampuan luar biasa dalam memanipulasi angka. Pada satu kesempatan rekan matematikawan G.H. Hardy teringat saat ia mengunjungi Ramanujan di rumah sakit. Hardy mengatakan bahwa taksinya memiliki nomor 1729, dan mengatakan bahwa itu adalah angka yang sangat membosankan.

Ramanujan langsung menjawab bahwa sebenarnya sangat menarik: itu adalah jumlah terkecil yang bisa dinyatakan sebagai jumlah dua kubus dan dua cara berbeda (seperti 12 kubus ditambah 1 potong dadu atau 10 kubus ditambah 9 potong dadu).

Satu orang jenius lain yang memiliki kemampuan berhitung luar biasa hingga dijuluki sebagai komputer hidup adalah seorang anak ajaib abad ke 19, bernama Zacharias Dase. Dia dapat memperbanyak angka 100 digit secara keseluruhan dan menciptakan tabel matematika dengan mudah. Namun, Dase tidak dapat memahami bahkan rumus matematika yang paling sederhana sekalipun. Akademi Ilmu Pengetahuan Hamburg memberinya dukungan finansial untuk menciptakan tabel matematika lebih lanjut yang akan mempersingkat kerja keras rekan matematikawan dan ilmuwannya.

Para manusia kalkulator mungkin belum mampu menjelaskan karunia yang dimilikinya, tetapi mereka tampaknya memiliki ciri-ciri umum yang sama. Ketika dihadapkan dengan perhitungan numerik, mereka memiliki memori yang sangat luas dan menunjukkan daya ingat yang sangat cepat. Kemampuan aritmetika semacam itu memungkinkan mereka melakukan perhitungan rumit tanpa pena atau kertas dan ingat hasilnya untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah-masalah di masa depan.